Sunday, August 28, 2016

Life is a Choice

Hidup itu penuh dengan pilihan, mulai dari yang paling mudah hingga yang paling sulit. Terkadang kita dapat memutuskan untuk memilih beberapa hal sekaligus, karena memang pilihan-pilihan tersebut dapat dijalani secara bersamaan. Namun, di waktu lain, tidak semua hal dapat dipilih dan kita hanya dapat menjalani salah satu saja. Itulah yang terberat, apalagi bila pilihan tersebut sama-sama sulit untuk dibuat. Bila kita memilih A, tidak mungkin ada B dan sebaliknya.  

Saat ini aku telah menentukan pilihanku, yang sudah aku pertimbangkan dengan pikiran dan hatiku beserta seluruh doaku. Aku sadar bahwa aku telah menjadi buta dalam jangka waktu yang tidak sedikit demi kebahagiaan yang semu. Aku sudah cukup lama meyakinkan diriku untuk tinggal dalam pilihan tersebut -- pilihan yang rasanya tidak tepat, namun aku paksakan untuk menjadi tepat, hingga aku merasa terjebak semakin dalam oleh jeratnya. Semakin hari aku berusaha merasa bahagia dengan keadaan yang ada, dimana keadaan tersebut sesungguhnya tak dapat berubah.

Aku bergumul untuk lepas dari cengkeraman itu dan rasanya sulit sekali pada awalnya. Namun saat ini aku dapat mengatakan bahwa perlahan tapi pasti aku bisa melakukannya. Aku selalu berdoa, dan higga kini masih meneteskan airmata atas luka yang pernah tergores begitu dalam; atas hari hancurnya hati dan kepercayaanku pada pilihan yang pernah kubanggakan itu. Aku berdoa pada-Nya, "Tuhan, semoga suatu saat keadaan ini dapat berubah. Namun bila keadaan tersebut tidak dapat berubah, ubahlah hatiku saja." Sudah kubuat keputusan bahwa aku tidak ingin terus berada dalam kebodohan. Pada akhirnya, aku tahu yang terbaik untukku, dan semua akan indah pada waktunya.  
 

Wednesday, August 10, 2016

The Renewal

Let me tell you about an event on Saturday 30 July. It was actually nothing really big, but  I just want to write it down while I remember that feeling. 
That evening, I attended a Mass at my church, St. Fransiskus Xaverius Kidulloji. It was not an ordinary weekly Mass; it was my parents' wedding vow renewal. After the priest's homily, my parents, along with seven other couples, stood together in front of the altar and pronounced the vow they had ever said on their own weddings. More or less, it went like this:
"I, (name), take you, (spouse's name), as my husband/wife, to have and to hold, in good and bad times, in sickness and in health, until death do us part. I will love and honor you all the days of my life."
While some laughed and thought it was not that necessary (since it wasn't the "real" wedding), I felt the other way around. Watching the couples rejoined together and listening to their vows, I secretly cried. I felt that those people were so lucky to be able to say those words even after decades of marriage. Getting married, having a faithful partner to live together forever in holy union is indeed God's wonderful blessing.
I hope that someday I can say that vow as well, in that exact church. I could even imagine myself wearing a beautiful white dress, shedding tears of joy in front of my one true love, with my family and friends watching joyfully.  
But when is my turn and with whom?
Yes, I am just being sentimental this time.