Hidup itu penuh dengan pilihan, mulai dari yang paling mudah hingga yang paling sulit. Terkadang kita dapat memutuskan untuk memilih beberapa hal sekaligus, karena memang pilihan-pilihan tersebut dapat dijalani secara bersamaan. Namun, di waktu lain, tidak semua hal dapat dipilih dan kita hanya dapat menjalani salah satu saja. Itulah yang terberat, apalagi bila pilihan tersebut sama-sama sulit untuk dibuat. Bila kita memilih A, tidak mungkin ada B dan sebaliknya.
Saat ini aku telah menentukan pilihanku, yang sudah aku pertimbangkan dengan pikiran dan hatiku beserta seluruh doaku. Aku sadar bahwa aku telah menjadi buta dalam jangka waktu yang tidak sedikit demi kebahagiaan yang semu. Aku sudah cukup lama meyakinkan diriku untuk tinggal dalam pilihan tersebut -- pilihan yang rasanya tidak tepat, namun aku paksakan untuk menjadi tepat, hingga aku merasa terjebak semakin dalam oleh jeratnya. Semakin hari aku berusaha merasa bahagia dengan keadaan yang ada, dimana keadaan tersebut sesungguhnya tak dapat berubah.
Aku bergumul untuk lepas dari cengkeraman itu dan rasanya sulit sekali pada awalnya. Namun saat ini aku dapat mengatakan bahwa perlahan tapi pasti aku bisa melakukannya. Aku selalu berdoa, dan higga kini masih meneteskan airmata atas luka yang pernah tergores begitu dalam; atas hari hancurnya hati dan kepercayaanku pada pilihan yang pernah kubanggakan itu. Aku berdoa pada-Nya, "Tuhan, semoga suatu saat keadaan ini dapat berubah. Namun bila keadaan tersebut tidak dapat berubah, ubahlah hatiku saja." Sudah kubuat keputusan bahwa aku tidak ingin terus berada dalam kebodohan. Pada akhirnya, aku tahu yang terbaik untukku, dan semua akan indah pada waktunya.
No comments:
Post a Comment