Dalam iman yang aku pegang hingga saat ini, yaitu Katolik, terdapat 7 sakramen: baptis, ekaristi, pengampunan, krisma, imamat, perkawinan, dan pengurapan orang sakit. Sebagian besar sakramen tersebut telah aku terima.
Aku dibaptis saat aku belum mengetahui apa-apa--sebagai bayi yang tidak berdosa. Kemudian, karena ingin merasakan hosti--apakah roti kecil bulat itu enak atau tidak, dan rasa ingin lebih dekat dengan Tuhan Yesus, aku mengikuti pelajaran sakramen penerimaan komuni pertama pada saat kelas 4 SD. Aku ingat waktu pertama kali harus mengaku dosa kepada Romo sebelum menerima sakramen tersebut. Aku lupa menyebutkan seluruh dosaku dan aku bahkan membuat dosa lagi karena berbohong di ruang pengakuan. Namun, dengan keluguanku sebagai anak kecil, aku tetap menyambut tubuh Kristus dengan penuh sukacita pada akhirnya.
Semenjak itu, aku selalu berusaha menjadi anak yang baik. Aku berdoa pagi dan malam dan ke gereja setiap minggu. "Anak Tuhan tidak boleh malas," pikirku. Bahkan, aku sempat bercita-cita untuk menjadi seorang suster. Namun, lama-kelamaan, aku merasa bosan. Semua terasa seperti rutinitas belaka. Doa dan acara ke gereja terasa seperti kewajiban dan rutinitas dan bukan kerinduan. Hal itu terjadi seiring dengan temanku yang mengajak aku ke gerejanya yang lebih meriah dan modern serta pengaruh dari anggota keluarga yang membuat imanku goyah.
Saat SMP, sekolah memberikanku kesempatan untuk menerima pelajaran sakramen penguatan. Aku tidak ingin melaluinya dan selalu ingin menghindar. Batinku, hal ini bukan masalah. Toh orangtuaku juga tidak mempermasalahkan akan hal itu. Aku tidak lagi peduli atas apa yang sebenenarnya aku anut karena kebenaran menjadi semu bagiku. Aku tidak lagi sering berdoa dan bahkan berhenti mengaku dosa meski ada kesempatan.
Menginjak bangku SMA, sekolah untuk kedua kalinya membuka jalan untuk sakramen tersebut dan aku melewatkannya lagi. Aku tidak peduli dengan guru agamaku yang berkata bahwa menerima sakramen penguatan berarti menjadi seorang Katolik dewasa dan orang yang belum menerimanya masih anak-anak. Saat itu aku berpikir bahwa menjadi anak-anak tidak akan membebaniku. Buktinya, aku masih dapat bertahan hidup. Lagipula, tidak ada yang melarangku untuk tidak menerima penguatan.
Setelah semua yang kulalui, aku menyadari bahwa agama hanyalah sesuatu yang kumiliki beberapa saat setelah aku lahir, yang sekarang tertulis di KTP, dan di dunia ini banyak sekali agama. Aku yakin bahwa banyak orang, dalam lubuk hati yang paling dalam, juga merasa kebingungan atas apa yang dapat dikatakan benar, termasuk aku.
Mengapa pada akhirnya aku memutuskan untuk menerima penguatan? Karena bagiku tidak ada yang terasa lebih tepat lagi. Aku merasa hampa bila jauh dengan Tuhan, dan dengan cara ini aku dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Bagiku, sakramen ini seperti janji: bahwa aku akan setia kepada-Nya dan menerima Yesus Kristus sebagai juruselamatku selama-lamanya. Karena itu, pada tanggal 9 Oktober 2014, tepat dua hari sebelum wisudaku, aku menerima penguatan dengan nama pelindung Margareta, yang aku pilih karena kesetiaannya kepada Kristus sampai mati. Dan itu merupakan salah satu peristiwa terindah dalam hidupku.

No comments:
Post a Comment